Minggu, 01 April 2018

Hujan itu Rezeki Nak!

Hujan sore itu cukup deras. Tiba-tiba gadis kecil nyeletuk  “ awwee…bosi  siii…”. Ini bahasa bugis. Jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia, kira-kira maknanya “ aduh, hujan lagiii..”. Mendengarnya, saya tertarik untuk menanyakan lebih lanjut alasan Ilma berucap seperti itu.

Ummi : “Yang Ilma bilang barusan, tahu artinya?”

Ilma : “ Iya, kenapa je hujan terus? ” (kenapa hujan terus?)

Ummi : “ Betul hujan terus, tapi suaranya Ilma seperti orang yang sedang mengeluh. Kan harus tetap bersyukur kalau hujan”

              Kemudian mengalirlah cerita kami tentang bagaimana menyikapi hujan. Sebagai orang tua kita tidak boleh langsung menyalahkan anak atas apa yang ia ucapkan. Apalagi jikaorang tua merasa tidak pernah melakukan hal yang kurang menyenangkan itu di depan anak. Bisa jadi anak belajar dari orang di luar rumah.

                “Ka..hujan itu rezeki dari Allah juga nah! Liat pohon mangga itu, bisa tumbuh subur karena ada air hujan yang turun dari langit, meresap ke tanah, terus akar pohonnya nanti ambil air tanahnya untuk tumbuh. Sampai Ilma bisa makan mangga yang manis,yeeiiyy…” ceritaku pada Ilma.

                “Kalau Ilma bilang awwee..bosi si…seolah-olah Ilma mencela hujan atau membenci turunnya hujan. Ilma tidak senang kalaun hujan yah?” tanyaku lebih serius.

                Dengan polosnya ia menjawab “ iya, kalau hujan terus kan tidak bisa main di luar”.

                “Tapi kan bisa main di dalam rumah sama Ummi dan Adik Zuhdy” balasku. Lalu kulanjutkan pembahasan tentang hujan “Kak, di dalam Al Quran Allah bilang kalau hujan turun itu pertanda datangnya rezeki. Jadi kita harus bersyukur kalau hujan.”

                “Tapi nanti banjir kalau hujan terus Ummi…” tanya Ilma lebih lanjut.

                “Banjir itu bukan karena salah hujannya kak. Banjir itu ada karena sikapnya manusia yang suka buang sampah bukan di tempatnya, selalu tebang pohon banyak-banyak – tapi tidak ditanam lagi degan pohon baru. Banyak juga orang yang suka bikin gedung-gedung tinggi dan besar, tapi tidak bagus saluran pembuangan airnya. Tidak ada selokannya, jadi air tidak bisa mengalir. Sampah banyak, jadi air tersumbat. Banjir deh!” Ummi menjelaskan seperti Bu Guru.

                “Oooh, begitu. Maaf, tadi Ilma mengeluh.” Ucapnya sembari tersenyum.

***

                Terkadang kita sebagai orang tua tidak sadar terhadap lintasan pikiran yang kemudian berwujud menjadi sebuah ucapan. Pasti diantara kita juga pernah berujar “ Yaaaah, hujan lagi!”. Mungkin karena keinginan kita saat itu tidak bisa terlaksana dengan baik sebab hujan. Jadilah kita ikut mencela hujan. Menyalahkan hujan. Dan itu terekam secara tidak sengaja oleh anak. Hwaaah, betapa kompleksnya tugas orang tua yah! Benar-benar harus menjaga ucapan. Apalagi di depan anak-anak.

                Semoga Allah senantiasa menuntun kita menjadi orang tua yang lebih baik. Membiasakan diri untuk mengucapkan kalimat yang baik. “ Alhamdulillah, hujan nak. Semoga hujannya berkah. Berdoa yuk kak! Allahumma shayyiban naafi’an”. Maka anak pun akan mengikuti kebiasaan baik yang dicontohkan oleh orang tuanya, in syaa Allah.

 (Dialah) Yang menjadikan untukmu bumi sebagai hamparan dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia mengeluarkan air (hujan) itu buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kalian mengadakan bagi Allah sekitu-sekutu, padahal kalian mengetahui.

(Q.S. Al Baqarah: 22)

 #RumbelMenulis
#IPSulawesi
#ChallengeMaret
#Hujan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar