Senin, 07 Agustus 2017

MENYUSUI: (One Of ) My MISSION STATEMENT



MENYUSUI: (One Of ) My MISSION STATEMENT



 

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah untuk setiap peran yang telah digariskan padaku. Saya pernah membaca sebuah tulisan (entah sumber aslinya darimana), bahwa seorang anak perempuan itu dilahirkan tiga kali. Pertama, ketika ia dilahirkan sebagai anak dari orang tuanya. Kemudian dibesarkan, diasuh dan dididik penuh kasih sayang, dibekali dengan ilmu dan ahlak yang baik, sehingga menjadi pribadi yang tangguh dan bermanfaat. Kedua, ketika seorang perempuan itu dilahirkan sebagai seorang istri. Yang kemudian perubahan statusnya mengharuskan ia untuk taat kepada suaminya dan menjadikannya sebagai perhiasan yang paling indah di dunia. Yes, istri solihat – bidadari syurga yang hadir di dunia J. Ketiga, perempuan dilahirkan untuk menjadi seorang ibu. Masyaa Allah, nikmat inilah yang kemudian banyak merubah kehidupanku. Yang dengan perannya, generasi Islam berkualitas dapat terbentuk.
Tiga tahun menjadi Ibu, menyadarkan saya dan suami bahwa hidup adalah kesempatan untuk terus belajar. Terkhusus dalam menjalankan peran sebagai orang tua. Setahun menanti buah hati telah memberi bannyak arti akan doa dan ikhtiar. Kemudian si kecil lahir dan mendengar tangisan pertamanya, semakin menambah syukur dan cinta kami kepadaMu wahai Sang Pencipta seluruh makhluk. 

Jika ditanya tentang bagaimana pengalaman menjadi orang tua, saya rasa tidak ada habisnya untuk diceritakan. Mumpung pekan pertama Agustus ini diperingati sebagai pekan ASI sedunia, maka cerita kali ini terkait tema menyusui. Ada yang menyentuh ketika membaca cerita perjuangan teman-teman ketika menyusui anaknya. Alhamdulillah, syukurku juga karena dimampukan Allah dalam memenuhi hak putri kecilku untuk menikmati ASI selama dua tahun pertamanya. Sebuah komunitas ibu menyusui malah memberikan reward Sertifikast S2 ASI bagi kami.
Bagi saya pribadi, bisa menyusui full selama dua tahun adalah berkah yang penuh perjuangan. Ketika baru menikah, saya menjadikan momen menyusui sebagai salah satu bagian dari mission statement keluarga kecil yang sedang kami bangun. Yah, saya berikrar pada diri sendiri  dan memohon kekuatan kepada Allah supaya bisa menyusui anakku hingga dua tahun. Ketika Ilma berusia dua tahun dan tiba masa dimana ia harus disapih, membuat saya seolah-olah akan berpisah jauh dari mujahidahku.
Dibalik anak yang ASI, selalu ada Ibu yang rela mengorbankan berbagai hal untuk anaknya“. Ah, bahkan ketika anak belum berkesempatan menikmati haknya (baca:ASI), perjuangan seorang ibu memang sudah tiada taranya. Mulianya dirimu wahai Ibu.

Kisah menyusui saya mungkin belumlah sehebat ibu lainnya. Tapi sungguh, mampu bertahan menyelesaikan amanah mulia ini tidaklah muda. Saya melahirkan Mujahidahku ketika sedang kuliah di semester 3 studi magister. Diusianya yang ke 3 bulan, saya sudah harus meninggalkannya hampir setiap hari untuk melanjutkan kuliah. Jadwal perkuliahan yang kadang berubah,dari pagi bahkan sampai malam menyebabkan Ilma menikmati ASI perahan dengan bantuan sendok. Saat itu memang belum bisa pakai pipet dan tidak mau pakai dot. Ia baru menikmati ASInya ketika Umminya pulang dari kampus (special thanks buat Puang Ayu dan keluarga besar Puang Nana sudah banyak membantu kami selama kuliah di Kota Daeng J)
“MomSiswa” istilah saya saat itu untuk diri sendiri. Sebutan untuk emak rempong yang sedang menyusui, tapi harus masuk kelas juga mengikuti perkuliahan bersama para doktor dan profesor handal di kampus tercinta. Style MomSiswa saat itu pakai tas ransel berisi laptop, catatan kuliah dan pompa ASI, tangan kanan mendekap text book dan berkas-berkas tesis, pundak kiri menggandeng  cooler box. Kalau lagi lelah kuliah dan penugasan, kadang saya sangat sensitif menanggapi komentar teman kelas yang iseng menggoda “ itu pakaian bayi ga’ diangkut ke kampus juga, wkwkwk…?”. Mungkin karena saking ‘hebohnya’ saya kalau ke kampus,hehe..

Hari demi hari berlalu hingga seluruh perkuliahan tatap muka selesai. Sambil menyelesaikan proposal tesis, saya dan Ilma mudik ke Parepare. Seringkali Ilma saya tinggal ke Makassar untuk urusan kampus. Pergi subuh pulang tengah malam. Pompa ASI dan cooler box masih setia menemani. Momen sedihnya disini ketika meninggalkan si kecil seharian dan harus membuang ASI perahan yang sudah tidak baik. Kenangan lainnya, tatkala harus memompa ASI saat perjalanan Parepare – Makassar bolak balik diantara berbagai macam penumpang. Menunggu momen yang pas untuk pumping di mobil, kadang harus menikmati bau asap rokok yang sangat mengganggu.
Dua tahun berlalu, dan kami harus mengakhiri momen berharga ini di bulan suci Ramadhan 2016. Berbekal hasil membaca berbagai artikel, sharing dan diskusi teman-teman di grupIIP akhirnya kami memulai proses penyapihan. Salah satu metode manarik saat itu dipaparkan oleh seorang member IIP adalah menyapih anak dengan “Dialog Keimanan”. Yang terlintas saat membaca sharingnya adalah, bagaimana melakukan dialog keimanan kepada anak usia dua tahun? Yah, memang perlu dibicarakan baik-baik dan sesering mungkin kepada anak bahwa akan ada masa dimana ia harus berhenti menyusu kepada Umminya. Ilma kecil langsung sedih setiap kali saya membahas masalah penyapihan ini. Saya juga bercerita kalau Ilma berhenti menyusui adalah bagian dari perintah Allah juga. Yang terpenting adalah, kami mengakhirinya dengan cinta dan tanpa kebohongan. Metode orang tua terdahulu mungkin dengan memberi olesan atau menakut-nakuti si anak. Alhamdulillah, meski berderai air mata kami berdua bisa menjalani proses akhir dari cerita cinta ini.
Limpah terima kasih kami haturkan kepada suami tercinta, Sang Ayah ASI yang senantiasa memberikan dukungan kepada kami berdua dan mengambil peran penting dalam cerita cinta menyusui ini.



Dua tahun yang indah, bagi ibu baru sepertiku adalah masa-masa yang tak akan pernah terlupakan. Memulainya dengan IMD (Inisiasi Menyusui Dini) dan mengakhirinya dengan memohon izin dan keikhlasan anak untuk berhenti memberikan ASI merupakan wujud pernyataan mission statement ku. Kepada siapa? Yah, tak lain hanya kepada Rabbku. Yang memberikan rezeki permata hati, penuntunku menuju Jannah-Nya.
Demikian kisahku, Selamat Hari ASI Sedunia yah bunda! Semoga Allah senantiasa memampukan saya dalam memenuhi hak anak-anakku berupa pemberian ASI secara maksimal. Mari kita jadikan momen ini untuk meningkatkan kesadaran dalam menyusui. Semangaaat ^_^,
_Semoga bermanfaat_ 

#WorldBreastfeedingWeek
#IIP
#OWOP1
#rumbelmenulisIIPSulsel





Tidak ada komentar:

Posting Komentar