Rabu, 26 Juli 2017

Yuk Jadi Orang Tua Shalih! Sebelum Meminta Anak Shalih (Review Buku)

Judul Buku : Yuk Jadi Orang tua Shalih Sebelum Meminta Anak Shalih
Penulis : Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari
Penerbit : Mizania (Cetakan III, September 2016)
ISBN : 978-602-1337-52-3
Jumlah Halaman : 174
Direview oleh : Tien Asmara Palintan
  
“Katanya, Anak Adalah Anugerah”






Katanya, anak adalah anugerah.
Tapi, mengapa sebagian ibu
yang memilih membesarkan anak secara penuh,
justru malah terlihat lelah dan stres menjalankannya?

Katanya, anak adalah anugerah.
Tapi, mengapa sebagian besar anak
justru dijatuhkan harga dirinya dirumah?
dengan disalahkan setiap hari
dan dimarahi 3 kali sehari (atau sehari 3 kali?)

Sebenarnya,
Anak bisa patuh tanpa DITERIAKI
senang berbuat baik tanpa DIMINTA
Anak akan belajar tanpa DIPAKSA
Anak dapat mandiri tanpa DIGURUI
Anak punya ketahanan diri tanpa DIISOLASI
(Karya: Abah Ihsan)

    Tulisan di atas merupakan salah satu puisi yang disajikan oleh penulis di dalam buku ini. Menohok. Mungkin itu kata yang tepat bagi saya yang baru tiga tahun belajar “menjadi orang tua”. Yah, menjadi orang tua memang tidak ada sekolah formalnya. Sebuah keharusan bagi orang tua untuk menambah ilmunya, salah satunya dengan membaca buku bergizi. Menurut saya, buku ini bisa menjadi solusi, karena memuat permasalahan utama orang tua dan anak. Bisa menjadi panduan praktis bagi orang tua.

    Abah Ihsan – sapaan penulis buku ini menyatakan bahwa setiap orang bisa menjadi orang tua. Akan tetapi, apakah setiap orang tua tahu bagaimana cara melaksanakan tugas-tugas itu agar hasilnya sesuai dengan harapannya? Dalam buku ini, dipaparkan lima karunia yang sesungguhnya telah dimiliki orangtua sebagai modal mengasuh anak secara cerdas. Allah swt telah memasang kelima sarana ampuh ini dalam diri setiap orangtua.

    Kelima sarana itu adalah Karunia Belajar, yang akan dibahas dalam bab 2; Karunia Konsistensi, diulas dalam bab 3; Karunia Kiblat, dipaparkan di bab 4; Karunia Mendengarkan dibahas dalam bab 5; dan Karunia Al-Shaffat, akan ditemukan pada bab 6.  Namun sebelum mengembangkan kelima karunia di atas, pada bab 1 - penulis memulai penjelasannya dengan mengajak orang tua untuk melakukan perubahan pada dirinya.

Bab.1  Yuk Jadi Orangtua Shalih!




Sesungguhnya Allah tidak akanmengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.
QS. Al-Rad (13):11

    Pada bagian ini, penulis memaparkan tujuh langkah menuju perubahan, meliputi:
#1. Introspeksi:Pola asuh seperti apa yang anda terapkan? Intinya, akan lebih mudah bergerak menuju perbaikan ketika kita melihat ke dalam diri sendiri. Untuk membantu pembaca melakukan intropkesi, penulis menyiapkan dua tabel yang bisa menjadi acuan. Tabel pertama adalah daftar sikap atau cara yang “biasa dan sering” dilakukan orang tua, pesan yang disampaikannya tanpa disadari, dan akibatnya terhadap kejiwaan anak. Tabel kedua, berisi daftar perilaku anak yang sering dikeluhkan orang tua.

#2.Menggalang Kesatuan Orangtua. Orangtua harus kompak dalam pengasuhan. Segala perselisihan dan perbedaan pendapat tidak ditunjukkan di depan anak, kecuali jika orang tua sengaja mencontohkan cara menangani perbedaan dan sikap penuh toleransi.

#3. Belajar Bersama. Orangtua bisa mencari berbagai sumber untuk belajar bersama, misalnya seminar, milis atau grup keayahbundaan, buku parenting, dan sebagainya.

#4. Buatlah Jurnal. Adanya catatan harian atau jurnal akan membantu langkah perubahan yang dibuat.

#5. Lakukan Curah Gagasan (Brainstorming). Penulis menyarankan agar orangtua bisa saling mengetahui kapan saat-saat rentan mereka (marah, mengomel,atau bahkan memukul) dan menyepakati bersama pasangan cara untuk mengatasinya. Lebih lanjut bisa dijadikan program sistematis yang memuat: siapa yang melaksanakan, kapan dilaksanakan&bagaimana agar konsisten.

#6. Lakukan Evaluasi Berkala. Sangat penting dilakukan untuk memastika bahwa orangtua sudah melaksanakan program dengan konsisten.

#7. Rayakan Keberhasilan Sekecil Apapun. Minimal dengan pujian yang tulus dan murni.

Bab 2. Karunia Belajar



Dalam bab ini, penulis mengajak orangtua untuk belajar bagaimana anak belajar. Dimulai dengan pemaparan tentang permasalahan umum yang terjadi seputar belajar serta menjelaskan perkembangan anak kita sesuai dengan usia tumbuh kembangnya (dari 0-1 tahun hingga usia remaja) dari berbagai aspek: fisik, mental, sosial, dan emosi.

Bab 3. Karunia Konsistensi. 


Penulis sangat menekankan harus ada konsistensi dalam menyampaikan pesan kepada anak, agar pesan itu diterima akalnya. Konsistensi juga memberikan rasa aman pada anak. Lebih lanjut Abah Ihsan mengulas tentang konsistensi antara Ayah-Bunda, konsistensi dalam aturan, konsistensid alam rutinitas, konsistensi dengan orang tua yang berpisah, konsistensi antara kata dan perbuatan orang tua, dan konsistensi dalam larangan.

Bab 4. Karunia Kiblat


Maksud penulis disini adalah karunia kiblat yang telah dianugerahkan Allah swt bisa menentukan fokus dan arah kehidupan kita. Orangtua diminta untuk fokus pada perilaku baik,bukan perilaku buruk; fokus pada kelebihan, bukan kekurangan, fokus pada solusi, bukan masalah; dan fokus pada hasil yang ingin dicapai, bukan pada penyebab kegagalan.

Bab 5. Karunia Mendengarkan

Yang dimaksud dengan mendengarkan dalam istilah ini adalah mendengarkan dengan penuh perhatian atau menyimak. Abah Ihsan membaginya menjadi mendengar empati (emphatic listening) dan mendengar aktif (active listening). Dalam rangka menjadi orang tua shalih, orang tua tidak hanya mendengar anak-anak mereka, tetapi juga perlu mendengar diri sendiri dan mendengarkan pasangan.

Bab 6. Karunia Al-Shaffat

    Pada bagian ini, penulis menekankan pentingnya membangun komunikasi yang baik antara orangtua dengan anak (komunikasi efektif). Abah Ihsan membuka bab ini dengan menampilkan QS Al-Shaffat (37): 102. Ayat ini jelas menunjukkan bahwa seorang nabi (Nabi Ibrahim a.s) sekalipun meminta pendapat putranya (Nabi Ismail a.s) terlebih dahulu sebelum melaksanakan perintah Allah swt. Kita sebagai orangtua hendaknya menjadikan kisah ini sebagai teladan dan memaknai bahwa orang tua shalih berkomunikasi dengan melibatkan anak.
    Selain itu, penulis juga membagikan beberapa cara agar orang tua dapat meningkatkan kemampuannya dalam berkomunikasi dengan anak, antara lain: komunikasi penerimaan; berbicara dengan, Bukan kepada, anak-anak; biarkan anak memikirkannya sendiri; gunakan “pembuka pintu”; gunakan kalimat positif; gunakan pesan “aku” untuk menyampaikan pikiran dan perasaan anda; sederhanakan permintaan anda; dapatkan perhatian anak sebelum anda berbicara; lakukan kontak mata; katakan “tolong”, “terima kasih” dan “terima kasih kembali”, tidak menyela dan mencela anak ketika sedang bercerita kepada orangtua; gunakan kata-kata yang baik; buatlah tawaran yang tak akan ditolak anak; kaki dulu baru mulut (mendatangi anak untuk menunjukkan keseriusan orangtua); sesuaikan bahasa anda dengan perkembangan anak; tuliskan permintaan anda pada anak; melembutkan anak; memberi alternatif untuk larangan, membuka anak yang tetrtutup, dan memberi keteladanan,  
    Demikianlah review singkat buku Yuk Menjadi Orangtua Shalih Sebelum Meminta Anak Shalih. Terakhir, penulis menutup ulasannya dengan sebuah pertanyaan “Mengapa Kita Punya Anak?”. Pada bagian ini, Abah Ihsan kembali mengajak orangtua untuk merenung, apakah anak kita anggap sebagai Anugerah atau Beban – lebih banyak meminta atau memberi? Sebuah pertanyaan bagi orangtua untuk kembali memaknai perannya di Bumi Allah.
***
    Alhamdulillah, secara pribadi saya sangat suka dengan buku ini (kalau versi saya, strong recommended ^^,). Isinya daging semua (minjem istilah ibu2 kece di grup ini,hehe..). Yess..benar adanya! Diperlukan orangtua shalih untuk menghasilkan anak shalih. Jika ditanya sisi lain dari buku ini, kira-kira begini:
  • Kelebihan buku:
  1. Penulis menyajikan ide atau pikirannya dengan bahasa yang sederhana, sehingga mudah dicerna dari berbagai kalangan pembaca.
  2. Tidak hanya mendapatkan ilmu secara teoritis, namun pembaca juga diberikan contoh yang sangat aplikatif untuk setiap bab pembahasan. Sehingga materi yang disajikan dapat dipraktikkan langsung melalui banyak kasus yang sengaja penulis lampirkan. Baik di bagian awal bab, bagian tengah, maupun akhir pembahasan.
  3. Setiap bab yang dipaparkan dicantumkan kutipan ayat Al Quran dan Hadist. Sehingga orangtua memahami landasan pijakan berpikir dan berperilaku.
  4. Abah Ihsan selaku penulis buku ini adalah seorang praktisi. Beliau trainer yang berpengalaman memberikan pelatihan dan pembicara nasional&internasional terkait parenting. Sehingga materi pada buku ini (terkhusus pada contoh kasus) diangkat berdasarkan kisah nyata para orangtua dan anak. 
  5.  Beberapa contoh ceklist perilaku orangtua ataupun anak disajikan dalam bentuk tabel. Menjadikan buku ini sangat sistematis untuk dijadikan panduan. 
  6. Dari segi penampilan, buku ini cukup menarik. Terlihat dari pemilihan warna tulisan yang tidak monoton hitam. Namun diselingi dengan warna hijau dan penggunaan frame pada materi atau kasus yang menjadi penekanan utama penulis.
  7. Buku ini juga dilengkapi dengan halaman indeks. Jadi sangat memudahkan pembaca jika ingin mencari kembali materi/penjelasannya.
  • Kekurangan buku:
  1. Buku ini akan menjadi sangat menarik jika penulis menambahkan beberapa gambar visual yang bisa menunjang pembahasan materinya. Meski pada sampul pembatas bab sudah ditampilkan sedikit gambar.
Sekian yang bisa saya sampaikan, jika ada yang kurang berkenan mohon dimaafkan yah! Semoga bermanfaat ^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar