Sabtu, 11 Maret 2017

Belajar dari Siti Muthi’ah



Belajar dari Siti Muthi’ah

                Pernah dikisahkan, bahwa suatu hari Rasulullah saw memanggil salah satu putri tercintanya Fatimah Az-Zahra. Dalam pembicaraan, Rasulullah saw kemudian berkata “ Fatimah anakku, maukah engkau menjadi seorang perempuan yang baik budi dan istri yang dicintai suami?”. Fatimah menjawab “Tentu saja wahai ayahku” .
“ Tidak jauh dari rumah ini berdiam seorang perempuan yang sangat baik budi pekertinya. Namanya Siti Muthi’ah. Temuilah dia, teladani budi pekertinya yang baik itu.”
Nah, kira-kira amal apakah yang dilakukan Siti Muthi’ah sehingga Rasul saw memujinya sebagai perempuan teladan?
Maka bergegaslah Fatimah mengunjungi rumah Siti Muthi’ah dengan mengajak Hasan, putra Fatimah yang masih kecil.
Muthi’ah begitu bahagia dikunjungi oleh putri Nabi saw. Namun ia tidak dapat menerima kehadiran Fatimah karena suaminya tidak mengizinkan tamu laki-laki masuk kerumanhnya. Wow…amanah banget yak!
Yah…amanah, Siti Muthi’ah begitu menjaga amanah dari suaminya, meski yang hadir di hadapannya masih anak kecil dan cucu Rasulullah saw.
Apa yang terjadi dengan Fatimah? Kalau tamu Siti Muthi’ah selevel saya, mungkin saya sudah mo’jo’ (baca :ngambek) duluan karena ditolak sama tuan rumah dan berpikiran gak akan main kesana lagi, hehehe…
Namun berbeda dengan Fatimah, dia makin penasaran dan tertantang. Fatimah mulai merasakan keutamaan Siti Muthi’ah. Dia semakin kagum dan berhasrat menyelami lebih dalam akhlak wanita itu. Lalu diantarlah Hasan pulang dan bergegaslah Fatimah kembali ke rumah Muthi’ah.
“ Aku jadi berdebar-debar” sambut Siti Muthi’ah. “ apa gerangan yang membuatmu begitu ingin ke rumahku wahai putri Nabi?”
“ Memang benar Muthi’ah. Ada berita gembira buatmu dan ayahku sendirilah yang menyuruhku ke sini. Ayahku mengatakan bahwa engkau adalah wanita berbudi sangat baik, karena itulah aku kesini untuk meneladanimu.” Ucap Fatimah.
 Siti Muthi’ah gembira mendengar perkataan Fatimah. Namun ia masih ragu “ Engkau bercanda sahabatku? Aku ini wanita biasa yang tidak punya keistimewaan apapun seperti yang engkau lihat sendiri.”
“ Aku tidak berbohong wahai Muthi’ah, karenanya ceritakanlah kepadaku agar aku bisa meneladaninya” kata Fatimah.
Siti Muthi’ah tediam, hening….
Lalu tanpa sengaja Fatimah melihat sehelai kain kecil,kipas, dan sebilah rotan di ruangan kecil itu. “Buat apa ketiga benda ini Muthi’ah?” tanya Fatimah.
Siti Muthi’ah tersenyum malu..
Namun setelah didesak, dia pun bercerita. “ Engkau tahu Fatimah, suamiku seorang pekerja keras yang emmeras keringat dari hari ke hari. Aku sangat sayang dan hormat padanya. Begitu kulihat ia pulang kerja, cepat-cepat kusambut kedatangannya. Kubuka bajunya, kulap tubuhnya dengan kain kecil ini hingga kering keringatnya. Dia pun berbaring di tempat tidur melepas lelah, lalu aku kipasi beliau hingga lelahnya hilang atau tertidur pulas.
“Sungguh luar biasa pekertimu Muthi’ah. Lalu untuk apa rotan ini?” lanjut Fatimah
“Kemudian aku berpakaian semenarik mungkin untuknya. Setelah dia bangun dan mandi, kusiapkan pula makanan dan minuman untuknya. Setelah semua selesai, aku berkata padanya, “Kakanda…bilamana pelayananku sebagai istri dan masakanku tidak berkenan dihatimu, aku ikhlas menerima hukuman. Pukullah badanku dengan rotan ini dan sebutlah kesalahanku agar tidak kuulangi” cerita Muthiah.
“ Seringkah engkau dipukul olehnya, wahai Muthi’ah?” tanya Fatimah berdebar-debar.
“Tidak pernah, Fatimah. Bukan rotan yang diambilnya, justru akulah yang ditarik dan didekapnya penuh kemesraan. Itulah kebahagiaan kami sehari-hari”.
Fatimah merasa terkagum-kagum, lalu berkata “ Jika demikian, sungguh luar biasa wahai Muthi’ah. Sungguh luar biasa ! benarlah kata ayahku, engkau perempuan berbudi baik.
***
                Menjadi istri salihah dengan segala karakteristiknya –  tentu saja tidak mudah mewujudkannya. Kisah Siti Muthi’ah memberikan banyak inspirasi kepada perempuan dalam menjalankan peran sebagai istri maupun ibu.
                Zaman sekarang masih adakah diantara kita yang mengikuti langkah Fatimah untuk serius datang belajar dan mengambil ibroh dari saudarinya yang lain? Bagi perempuan yang aktif mengikuti tarbiyah Islamiyah mungkin masih sering melakukannya, meski itu bagian dari penugasan Murobbiyahnya, hehe ..Apalagi di era serba cangih saat ini. Teknologi begitu memudahkan komunikasi kita. Alih-alih memetik manfaat dari pribadi saudari yang lain, terkadang secara tak sadar malah kita ikut menyebarkan informasi atau berita yang kurang menyenangkan dari saudari kita. Sibuk dengan urusan sendiri, kurang peka dengan kondisi sekitar. Astagfirullah, semoga Allah mengampuni setiap kelalaianku..

#selfreminder
#OWOP
#rumbelmenulisIIP
#IIPSulalwesi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar