Senin, 06 Februari 2017

Komunikasi Kontekstual



Hari 6 “Tantangan Komunikasi Produktif”



Listrik padam atau  mati lampu (kata orang di kampung saya) lumrah terjadi ketika cuaca sedang tidak bersahabat. Satu dua jam mungkin masih dibawa santai. Tapi kalau padamnya kurang lebih 12 jam?? Emak-emak pastinya galau bin bete. Pekerjaan rumah (yang butuh listrik) nganggur, anak kepanasan dan bosan juga. 

Dalam sehari, biasanya putri kecil kami dapat jatah screen time minimal sekali pemutaran film Upin Ipin. Kadang juga lebih, kalau saya benar-benar sibuk dengan berbagai urusan. Listrik padam seolah merenggut separuh kebahagiaan Ilma. Diusianya menjelang tiga tahun, sepertinya dia sudah tau kalau tayangan favoritnya sudah diputar jika Ummi telah melaksanakan sholat dzuhur. “ Ummi cudah colat kah? Boleh Imma nonton Ipin?” adalah pertanyaan wajib yang hampir tiap hari ditujukan pada saya.
Karena belum paham bagaimana proses, sebab dan akibat pemadaman listrik – maka merengeklah  Ilma minta diputarkan kisah si botak kembar. Hari ini bawaannya rewel. Ummi tawarkan alternatif aktivitas dan permainan lain,namun ia selalu menolak.

Saya merasa sebuah perjuangan yang tak mudah untuk memberikan pemahaman ke anak batita – untuk  belajar bersabar dan menikmati pemadaman listrik. Saya pun berusaha menerapkan komunikasi produktif. Menjelaskan secara sederhana kenapa lampu dan tv tidak bisa menyala, mengajaknya melihat kilometer listrik di teras rumah (menjelaskan kalau sudah menyala kilometernya, tv juga akan menyala), mengajak Ilma merasakan sensasi angin kencang (menggendongnya keluar rumah sebentar, memperlihatkan pohon yang bergoyang diterpa angin, dan bercerita kalau pohonnya tumbang, kabel listriknya bisa putus, akibatnya listrik padam).

Aaiiih, rasanya berat sekali tema pembicaraan kami. Tapi saat itu, saya juga bingung bagaimana memahamkan kondisi tersebut ke Ilma. Yah, berbicara dan menjelaskan sesuatu ke anak usia dini memang harus kontekstual. Karena perkembangan kognitif mereka  masih dalam tahap praoperasional. Pada fase ini, anak menggunakan mental simbolnya (kata-kata dan imajinasi) untuk menggambarkan benda, situasi dan kejadian. Sehingga mengajak Ilma merasakan kencangnya angin, rintik hujan, pohon yang bergoyang, memperhatikan lampu dan kilometer listrik – merupakan upaya dalam rangka memahamkan anak akan kondisi yang sedang ia alami.

Terkadang kita sebagai orang tua asyik saja melarang anak untuk ini itu. Tetapi lupa menjelaskan alasan mengapa anak tidak boleh berbuat demikian.Berdialog yang kontekstual (sesuai dengan usianya) adalah salah satu cara memproduktifkan komunikasi dengan anak kita.Sehingga sejak dini, anak belajar alasan, sebab dan akibat, konsekuensi dari setiap peristiwa yang mereka alami.
Semoga bermanfaat

#hari6
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif 
#kuliahbunsayiip

Tidak ada komentar:

Posting Komentar