Minggu, 06 November 2016

Nice Homework #3





MEMBANGUN PERADABAN DARI DALAM RUMAH

 
Nice Homework #3
#tienasmara_NHW#3


Jatuh Cinta Lagi
          Sejak di bangku sekolah dasar (SD), menulis surat merupakan salah satu aktivitas yang sangat saya gemari. Masih zaman sahabat pena, saya sering berkirim surat dengan teman baru yang alamatnya kutemukan di majalah BOBO. Hayoo…ada yang samaan dengan saya? Hehe..seru yak! Bahkan sampai sekarang. Saya selalu senang jika diminta untuk menulis surat, apalagi surat cinta. Eiits..tapi untuk suami yah! ^^,
            Membaca chat teman-teman grup matrikulasi IIP Sulawesi Selatan bikin saya senyum sendiri. Respon awal teman-teman ketika diminta menulis surat cinta bikin geli, hehe. Yah, tidak bisa dipungkiri, kesibukan mengurus rumah tangga menguras banyak waktu seorang ibu. Jangankan menulis surat cinta pada suami, berbicara dari hati ke hati saja butuh perencanaan waktu yang baik dalam pelaksanaannya.
            Dalam kehidupan berumah tangga, tidak sedikit pasangan dijumpai yang kesulitan dalam melakukan komunikasi. Maksud saya disini yaitu istri kadang sulit berbicara tentang isi hatinya pada suami, begitu juga sebaliknya. Masing-masing pasangan mungkin berbicara sebatas rutinitas hariannya saja, kondisi anak-anak, pekerjaan suami atau istri. Tetapi isi hati, rasa-rasanya begitu sulit untuk diutarakan secara verbal. Malu-malu bilang I Love You, merasa risih memuji kebaikan hati istri atau suami, dan sebagainya. Maka, sangat baik jika menulis surat cinta kepada pasangan menjadi alternatif cara untuk memekarkan jalinan cinta pasangan suami istri.
            Alhamdulillah, saya termasuk istri yang rajin menulis surat cinta ke suami. Tapi nulisnya di dalam buku harian kami berdua. Jadi bukan hanya saya saja yang nulis, suami juga sering menulis perasaan, isi hati dan pikirannya terhadap istri tercintaaahh,suiit-suuiit. Surat cinta terakhir yang saya tuliskan terkait nice homework #3 ini juga mendapat tanggapan balik dari suami. Hampir sama dengan respon pada catatan hati sebelumnya, suami merasa bertambah kesyukurannya pada Allah karena mendapatkan istri seorang Tien Asmara (klepek-klepek lagi^^). Ngobrol dari hati-ke hati, saling meminta maaf untuk kesalahan ataupun kelalaian sebagai pasangan. Momen NHW #3 ini juga mendorong kami untuk mengevaluasi target-target yang telah kami susun bersama. Suami juga meminta saran saya dalam menyusun indikator suami profesional ala Abu Ilma,hehe..
Masyaa Allah yah, terima kasih saya haturkan kepada Institut Ibu Profesional. Thanks, sudah membuat saya semakin jatuh cinta pada suami saya. Semoga kelak sakinah, mawaddah, warahmah hingga Jannah-Nya. Amin..


Mujahidah Kecilku
            Terlahir sebagai anak sulung memberikan pelajaran hidup yang sangat bermakna. Meski masih ada sebagian orang yang men-cap bahwa anak perempuan itu cengeng, manja, kurang gesit, dan sederet tudingan melemahkan lainnya. Tetapi saya selalu bersyukur Allah tempatkan pada posisi yang indah ini. Dengan polah asuh dan limpah kasih sayang yang orang tua berikan, semoga saya pun bisa menjadi teladan bagi adik-adikku. Demikian pula dengan putri kecilku, Mujahidah Ilma Nafiah. Terlahir sebagai anak perempuan pertama di keluarga kecil kami, saya dan suami akan mendidiknya menjadi seorang perempuan yang tangguh. *Seperti Umminya, puji suami saya. Ciee….
            Home base edication yang dicanangkan oleh Bapak Harry Susanto menyatakan bahwa tujuan pendidikan menumbuhkan semua potensi FITRAH menuju peran peradaban, yaitu misi penciptaan. Salah satu fitrah yang perlu dikembangkan orang tua dalam mengiringi perkembangan anaknya adalah fitrah bakat. Dimana fitrah ini memandang bahwa setiap anak adalah unik. Mereka memiliki potensi produktif yang akan menjadi panggilan hidupnya. Potensi inilah yang akan membawa anak kita menjalani peran spesifik peradaban – yakni  Rahmatan lil Alamin..
          Usia Ilma saat ini dua tahun empat bulan, alhamdulillah ia sudah dapat menyelesaikan tugas perkembangan sesuai dengan milestone perkembangan anak seusianya. Rasa ingin tahunya semakin meningkat, sehingga berbagai hal akan ia coba untuk menjawab pertanyaan dikepalanya. Karena masih kecil, kami selaku orang tua belum mampu menggali potensi anak. Namun kami berusaha memfasilitas semua hak-hak belajarnya – yang dikemas dalam berbagai bentuk aktivitas bermain. Semua aktivitasnya sedapat mungkin kami observasi secara langsung, dan kami dokumentasikan. Hasil pengamatan inilah yang akan kami jadikan referensi dalam mengarahkan potensi anak kami nantinya. Saat ini, perkembangan bahasanya berkembang dengan pesat dibandingkan anak seusinya. Semoga kelak banyak kebaikan yang bisa terucap darimu nak..^^, Amin..



Mutiara di dalam diri
            Sama seperti Ilma, sejak kecil saya merasa sangat suka berbicara. Entah itu ngobrol biasa saja ataupun aktivitas yang menuntut saya untuk berbicara formal. Mungkin karena potensi itulah, mengapa Allah memilihkan ilmu psikologi untuk saya pelajari. Sadar dengan potensi tersebut, sayapun melatihnya dengan berbagai aktivitas bermanfaat. Sejak di bangku SMA, saya memberanikan diri untuk aktif dalam kepengurusan OSIS. Supaya lebih bisa mengembangkan kemampuan memimpin dan public speaking. Zaman kuliah, saya juga belajar bagaimana menjadi seorang trainer dan menjadi guru kelas – yang semuanya menuntut saya untuk dapat berkomunikasi dengan baik kepada orang lain.
            Kemampuan public speaking ditambah dengan sedikit bumbu percaya diri (PD), menjadikan saya sering diundang untuk menjadi MC dan membawakan materi untuk beberapa pelatihan remaja, mahasiswa maupun guru sekolah dasar. Berharap semoga ada manfaat yang bisa saya beri. Muhasabah diri kemudian menjadikan saya begitu bersyukur atas setiap kehendak yang Allah tetapkan pada saya. Dengan kemampuan komunikasi ini, saya dan suami menjadi sangat terbuka untuk semua aspek kehidupan kami. Mulai dari urusan rumah tangga, pekerjaan suami, aktivitas me time saya, perkembangan Ilma, visi misi dan nilai keluarga kecil kami, dan sebagainya. Begitu juga dengan si buah hati. Berkat kemampuan verbal emaknya, Ilma juga mempunyai perbendaharaan yang cukup banyak dibandingkan anak seusianya. Ia sudah mampu bertanya dengan kalimat lengkap. Ia juga mampu menjelaskan jawaban sebab akibat akan sebuah peristiwa. Masyaa Allah…Barakallah nak!


Tantangan itu selalu ada
            Sejak zaman sekolah sampai punya anak, saya merasa selalu bahagia jika bisa aktif berkegiatan di lingkungan masyarakat. Namun setiap zaman punya cerita sendiri. Dan kenyataannya sekarang adalah, menjadi seorang istri dan Ibu ternyata membuat langkahku tak selincah yang dulu lagi. Hehe, iyalah..kan sudah ada buntutnya. Suami pun menyadari kalau dia menikahi seorang perempuan yang sudah terbiasa mempunyai mobilitas yang tinggi. Sehingga, kesempatan untuk belajar dan berbagi di masyarakat ia buka selebar-lebarnya. Tidak lain agar istrinya bisa menjalankan peran peradabannya – Khoiru Ummah.
          Keluarga kami terbilang baru di lingkungan yang sekarang. Karena suami baru mutasi dari kantornya, sehingga saya dan suami belum mengenal semua tetangga dengan baik. Hal ini menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi kami untuk memperbanyak silaturrohim – agar kami saling mengenal. Selain itu, kesibukan suami dengan amanah kantornya sebagai abdi negara juga mempengaruhi produktivitas saya berkarya di masyarakat. Kenapa? Yah, karena saya tidak bisa kesana kemari kalau tidak diantar sama suami. Saya belum bisa membawa kendaraan sendiri. Sehingga mengemudi menjadi tantangan terbesar saya saat ini. Semoga kedepannya, saya mampu mengalahkan segala ketakutan dan kekhawatiran ketika belajar mengemudi kendaraan.

_Semoga Bermanfaat__

Tidak ada komentar:

Posting Komentar