Jumat, 21 Oktober 2016

#tienasmara_NHW#1



ADAB MENUNTUT ILMU
Nice Homework #1
#tienasmara_NHW#1

Maka nikmat Rabbmu yang manakah yang kamu dustakan?”
(Ar-Rahman [55]: 13)

          Ibu Rumah Tangga (IRT). Banyak orang memandang sebelah mata pekerjaan ini. Profesi yang entah mengapa, saat ini dunia memaksa kita untuk setuju bahwa wanita yang baik adalah wanita yang keluar rumah untuk mencari uang! Sehingga peran ibu rumah tangga tak dianggap penting. Padahal, dari sinilah generasi Islam berkualitas itu dibentuk.
            Bu Septi Peni, founder Institut Ibu Profesionel menyatakan bahwa setiap kita adalah pemimpin dan seorang istri adalah manager dikeluarganya. Yah, Alhamdulillah..di usia 24 tahun, Allah berkenan memberikan nikmat menjadi istri kepada saya. Hingga kini, menjalankan peran sebagai manager keluarga dengan mendampingi satu putri kecil yang berusia 2 tahun 4 bulan.
            Menjadi manager tentu tidak asal dilakoni begitu saja. Perlu ada usaha untuk memahami bagaimana peran tersebut bisa terlaksana dengan baik. Salah satunya dengan menuntut ilmu – yang katanya harus dituntut dari rahim ibu hingga liang lahat. Tapi kata Cah Lontoh, ilmu jangan dituntut! Karena ilmu ga bersalah,wkwkwk...* bacanya ga’ usah serius amat yak J
            Program Matrikulasi IIP ini sangat memotivasiku untuk belajar dan belajar lagi. Saya sadar, diri ini belum ada apa-apanya dibandingkan ibu rumah tangga lainnya. Baik dalam hal mengelola diri, rumah tangga maupun mendidik anak-anak dengan baik. Meski sudah sadar, sesadar-sadarnya kalau Ibu yang sudah bisa memanage dirinya, akan bisa memanage rumah tangga dan anak-anak dengan baik. So, memang harus B.E.L.A.J.A.R!! *ga ada alasan malas lagi,hikk..hik…
            Orang bijak selalu bilang “jangan pernah malu untuk belajar”, yah setuju..karena salah satu hal yang tidak mengenal usia adalah belajar. Bahkan sampai menutup mata. Kalau emaknya malas belajar, bagaimana bisa mendidik anak-anaknya menjadi insan pembelajar juga? Dan, aktivitas menuntut ilmu di Program Matrikulasi IIP akan lebih bermakna dengan mengerjakan nice homeworknya. Bismillah..
           


Jurusan Ilmu

          Kuliah di universitas kehidupan memang tidak ada tamatnya. Jika sebagai peserta didik kita telah melewati bangku sekolah dasar (SD) hingga kuliah, dan hasil akhirnya adalah ijazah dengan nilai yang memuaskan. Tetapi di universitas kehidupan, ijazah itu mungkin tidak akan kita lihat secara nyata. Karena proses pembelajarannya long life. Ijazah itu akan Allah berikan langsung ketika masa pertemuan denganNya tiba *jadi merinding,pengen nangis.. Semoga predikat taqwa bisa kita sandang saat itu.
            Jika ditanya tentang passion, mungkin saya salah seorang yang sangat bersyukur bisa mempelajari sesuatu yang kuminati – dan itu sejalan dengan pendidikan formal saya. Flashback masa-masa SD hingga SMA, saya adalah siswa yang sangat senang bergaul. Jika berada dalam lingkungan baru, sosialiasi tidaklah terasa sulit bagiku. Teman-teman banyak yang curhat pada saya. Entah mengapa, kalau mereka ada masalah – mereka selalu datang meminta pertimbangan. Karena potensi itulah, saya berani memilih jurusan psikologi dalam jenjang perguruan tinggi. Belajar tentang perilaku manusia, memahami teori-teori yang mendasari setiap tahapan perkembangan manusia, dan sebagainya – membuatku semakin bersyukur. Betapa skenario Allah sangat indah untukku.
            Saya sadar, bahwa apa yang Allah pilihkan untukku adalah yang terbaik. Jadi ingat, setelah menyelesaikan S1 di psikologi Universitas Negeri Makassar, saya sempat mendaftar di beberapa tes CPNS. Mulai dari Kementrian Keuangan, Pemerintah Kota Parepare dan Pemerintah Kabupaten Sidrap, Kementrian Kesehatan, Lembaga Administrasi Negara (klo yang ini sudah masuk 5 besar, horee,,,), dan beberapa instansi lainnya yang notabene job descriptionnya  bukan “aliran pendidikan”. Namun tak satupun yang kululusi. Hingga saya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan S2 di Pulau Jawa. Tetapi Allah pun belum meridhoi. Rasa-rasanya, saat itu nyaris putus asa. Beban sebagai anak pertama di dalam keluarga, sarjana pula, dan saya belum mendapatkan pekerjaan ataupun melanjutkan kuliah – seperti teman-teman lainnya. Allahu Akbar..
            Skenario Allah kemudian mengarahkanku untuk mengikuti penerimaan “Guru Model” yang dilaksanakan oleh Yayasan Dompet DHuafa. Pikirku saat itu, “jadi guru lagi…?? *kan mama dan bapakku sudah guru,hehe.. Tetapi tawaran itu tetap kupilih. Singkat cerita,saya lulus dan ikut menjadi peserta Sekolah Guru Indonesia angkatan kedua. Belajar menjadi guru selama enam bulan dan praktik menjadi guru beneran selama satu tahun di Selatan Indonesia, memberikan pelajaran hidup yang bermakna. Bahwa sepertinya Allah memang ingin saya konsen mendalami ilmu psikologi pendidikan anak. Saya lupa, waktu S1 pernah berazzam pada diri sendiri akan fokus dalam dunia psikologi pendidikan. Dan Allah pun menunjukkan jalanNya. Tes CPNS digagalkan, mendalami dunia pendidikan dimuluskan. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan.Hingga saat ini, saya konsen untuk mendalami ilmu psikologi pendidikan anak.
            

Alasan yang menguatkan
           
            Pernah dengar lagu ini..? “ Semua karena CINTA…tak mampu diriku dapat berdiri tegak, terima kasih CINTA “. Ini salah satu lagu favorit dari jaman dulu kala,wkwkwk…Eih,tapi jangan membanyangkan saya nyanyi yak. Nanti Joy Tobing merasa tersaingi,hehehe..
            Lanjuuut!
            Naah..apa pula hubungan lagu cinta di atas dengan alasan yang menguatkan mendalami ilmu psikologi pendidikan anak? Ada dong…Yah,semuanya karena CINTA. Sejak jaman kuliah sudah jatuh cinta dengan dunia pendidikan dan anak-anak. Alhasil, mata kuliah pilihan selama S1 diarahkan ke bidang psikologi pendidikan dan psikologi anak. Ada kebahagiaan tersendiri jika membahas masalah anak. Sejauh ini, saya merasa lebih bisa berkontribusi dalam dunia pendidikan. Mungkin karena sejak kecil dibesarkan langsung oleh dua sosok guru hebat, mama guru SD dan bapak guru SMA. Sehingga nuansa pendidikan dalam keluarga kami begitu terasa.
            Banyak yang bilang bahagia itu sederhana. Saya setuju. Meski dari sebuah ruang kelas yang kecil, tetapi di dalamnya ada tawa, canda dan semangat anak Indonesia – sungguh membuat hati bahagia. Sesederhana, melihat senyum tulus para guru ketika melihat anak didiknya sukses dengan mimpi-mimpinya. Semuanya, membuat saya semakin cinta dengan dunia pendidikan.


Strategi menuntut ilmu
           
            Di dalam ruang kelas dikenal istilah strategi pembelajaran, yaitu strategi atau teknik yang harus dimiliki oleh para pendidik yang sangat dibutuhkan dan menentukan kualifikasi pendidik tersebut. Begitupun pada universitas kehidupan ini. Dibutuhkan strategi menuntut ilmu untuk mengembangkan passion sang manajer keluarga. Karena proses pembelajaran itu memerlukan seni, keahlian, dan ilmu. Sehingga peran ibu dapat terlaksana dengan baik, tepat sasaran, efisien, dan efektif.
            Islam begitu memuliakan dan mengagungkan kedudukan seorang ahli ilmu di sisi Allah SWT. Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan orang yang dianugrahi ilmu beberapa derajat. Sehingga dalam mempelajari ilmu, dibutuhkan strategi tertentu.
            Adapun strategi yang saya lakukan adalah:
·   Ibu Cerdas. Berusaha menjadi ibu yang cerdas - abdi Al Aliim, Allah Yang Maha Mengetahui. Saya memulainya dengan senang membaca dan membeli buku. Juga  sebagai bukti cinta pengetahuan. Selain itu, saya juga berusaha menambah pengetahuan dengan mengikuti berbagai seminar, pelatihan, workshop, dan kegiatan pendidikan lainnya. Berburu ilmu pada pakarnya serta berbagi ilmu dengan sekitar.
·   Kesungguhan. Allah swt bersama hambanya yang bersungguh-sungguh.  Salah satu bentuk mujahadah saya dalam menekuni ilmu ini adalah berusaha semaksimal mungkin untuk mengaplikasikan ilmu yang dipelajari dalam setiap aspek kehidupan. Terkhusus kepada keluarga – suami dan anak yang sangat kusayangi. Mengiringi setiap perkembangan anak sesuai dengan milestone, mengajaknya bermain terasa begitu menyenangkan. Wujud kesungguhan lainnya adalah melibatkan suami dalam aktivitas menuntut ilmu ini. Ibu adalah madrasah utama anak-anaknya, namun suami tetap menjalankan peran sebagai kepala sekolahnya. Sehingga sinergi seorang kepala rumah tangga juga sangat dibutuhkan.

Berubah menjadi lebih baik

          Terkait dengan adab menuntut ilmu, maka perubahan sikap yang saya perbaiki dalam proses mencari ilmu adalah manajemen waktu. Menjalankan peran sebagai istri dan ibu, menuntut disiplin waktu yang tinggi. Berusaha memahami bahwa jatah waktu yang Allah berikan tidak hanya dipakai untuk diri sendiri saja. Melainkan ada hak orang lain atas diri kita – baik  keluarga, masyarakat, dan ummat. 

            Tulislah apa yang kau direncanakan,
              Rencanakan apa yang akan kau kerjakan,
              Kerjakan apa yang telah kau rencanakan”

Kalimat di atas selalu menjadi reminder ketika merasa tak mampu mengatur waktu dengan baik. Padahal waktu adalah salah satu harta berharga yang Allah karuniakan kepada kita. Semoga dengan hadirnya Program Matrikulasi IIP,semakin membantu saya untuk mengelola waktu dengan baik.
__Semoga Bermanfaat__

Tidak ada komentar:

Posting Komentar