Sabtu, 29 Oktober 2016

MENJADI IBU PROFESIONAL KEBANGGAAN KELUARGA


CHECKLIST INDIKATOR PROFESINALISME PEREMPUAN




Nice Homework #2
#tienasmara_NHW#2

          Materi matrikulasi tahap kedua sepertinya meninggalkan tanda tanya besar di kepala emak-emak yang mengikuti kelas. Alasannya? Yah tentu saja karena nice homework yang diberikan telah sanggup mengajak para manager keluarga ini untuk berpikir dan merenung. Mungkin ada yang mengerjakannya dengan melibatkan emosi, sehingga  bulir – bulir hangat dari mata berusaha menyaingi derasnya hujan yang mengguyur. Tak sedikit pula  yang H2C (harap-harap cemas) jangan sampai paksu (panggilan untuk pak suami yang baru kutahu setelah bergabung di IIP,wkwkwk…) tidak merespon pertanyaan dari istrinya tercinta. Yang tinggal serumah dengan suami punya jawaban sendiri, yang LDM-an juga punya cerita sendiri. Namun demikian, masih saja ada tanda tanya yang bersarang. Benarkah suami dan anak bangga memiliki diriku?
            Nice homework pekan ini adalah peserta matrikulasi diminta untuk membuat checklist indikator profesionalisme perempuan pada perannya sebagai individu, sebagai istri, dan sebagai seorang ibu. Cerita pendahulan di atas adalah efek dari keterlibatan suami dalam memberikan pandangannya akan sosok istri seperti apa yang bisa membuatnya bahagia. Sedangkan indikator profesional sebagai ibu bisa dikerjakan dengan bantuan feedback dari anak (Kalau anaknya sudah paham dan mampu merespon.Ilma sih baru bisa bilang saaaayaaang Ummi,trus kecup deh,,hehe).
Naah, bagaimana pula wujud profesionalisme perempuan dari sudut pandang perannya sebagai individu? Kalau yang ini mah, emak sendiri yang harus jawab. Meski saya masih suka bingung dan tidak tahu mau menulis apa. Jadi ingat, jaman muda dulu (hwaa,brasa sudah tua beneran) saya sering bawakan materi Who Am I kepada adik-adik mahasiswa  dan pelajar. Salah satu pembahasannya bahwa kita ini adalah seorang raja. Yah, raja untuk diri kita sendiri. Hendaknya kita yang paling tau kondisi dan keinginan diri sendiri. Dengan begitu, kita lebih bisa memahami siapa sebenarnya diri kita. Namun entah mengapa, ketika diberi pertanyaan yang mengajak untuk melihat diri lebih dalam (aku diri), rasa-rasanya masih sangat sulit untuk langsung menjabarkan diri ini secara detail. Padahal diri kitalah yang harusnya paling tahu.
            Syukur tak terhingga masih diberi kesempatan oleh Allah untuk mengikuti program matrikulasi ini. Dengannya, saya bisa lebih memahami bahwa untuk menjadi seorang Ibu Profesional tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Butuh proses dan harus semangat mempelajari ilmunya. Melalui nice homework #2 ini,semoga benar bisa menjadi acuan untuk meningkatkan kualitas diri sebagai kebanggan keluarga. Amin.
Ø  Sebagai Individu
Satu hal yang saya sadari setelah menikah dan mendapat gelar ibu adalah saya bukanlah seseorang yang pandai mengatur waktu. Sementara peran Ibu Profesional menuntut diri mampu mengatur waktu secerdas mungkin. Dengan begitu, target pencapaian profesionalisme dapat tercapai dengan mudah. Nikmat usia yang Allah berikan menjadikan saya selalu terpacu untuk menjadi insan yang lebih baik setiap harinya.
Namun terkadang kondisi jiwa melemah, semangat mengendur, fisik tak bergairah yang akhirnya menjadikan hidup terasa kurang indah. Saat itulah, dibutuhkan suplemen untuk memberikan nutrisi pada diri seorang perempuan. Ibarat perut, yang perlu diberi makan agar kita bisa bergerak dan kuat beraktivitas. Otakperempuan juga diberi nutrisi agar semakin cerdas. Selain itu, kondisi ruhiyah pun memerlukan suplemen bergizi. Sehingga kaum perempuan mampu menjadi manusia yang kuat secara fisik, cerdas secara kognitif, namun juga bersih hatinya – terpuji akhlaknya. Semua hal tersebut dibutuhkan untuk menjadi seorang Ibu Profesional.
Adapun checklist indikator profesionalisme seorang Tien Asmara yang akan dilaksanakan yaitu:
INDIKATOR
TARGET
(minimal)
WAKTU
CHECKLIST
KET
1
2
3
4
5
6
7
Qiyamul lail
4x
Harian
















Sholat dhuha
6x
Harian








Shaum sunnah
1x
Pekanan








Tilawah harian
1 juz
Harian








Hafalan Quran
2 ayat
Harian








Dzikir pagi-petang
1x
Harian








Silaturrahim
2x
Bulan








Baca buku
2x
Bulan








Sedekah
1x
Pekanan








Perawatan Diri
2x
Pekanan








Memiliki bisnis mandiri
Target jangka pendek (sudah berjalan minimal akhir tahun 2016)
Belajar memasak
Target jangka pendek
Belajar menjahit
Target jangka pendek
Mempunyai sekolah binaan sendiri
Target jangka mengenah

*NB:
·         Kolom cheklist bisa diganti dengan nama hari.
·         Target pekanan dan bulanan menyesuaikan checkislt harian.

Ø  Sebagai Istri
Berbagai macam respon yang muncul ketika seorang istri bertanya kepada suaminya mengenai indikator istri semacam apa yang membuatnya bahagia. Suamiku saja, ketika ditanya lebih banyak senyumnya. Saya sengaja membahas masalah ini dengan suami secara langsung, face to face. Disela-sela quality time kami. Supaya feel-nya lebih dapat. Saya bisa menikmati setiap perubahan ekspresi wajahnya, menatap binar matanya, dan bonus kecupan hangat di kening pula, hehehe…*sensor ^_^,
Berikut hasil deep interview dengan Pak Bos yah,

INDIKATOR
WAKTU
KET
Tahajjud call
Harian

Mendoakan suami agar mendapat rezeki yang berkah disetiap dhuha
Harian

Segelas kebahagiaan sepulang kerja ( tea time, mari ngobrol)
Harian

Menyediakan waktu khusus untuk mendengar cerita suami
Harian

Mampu mengaplikasikan peran manajer keuangan keluarga yang baik (target spesifik: toleransi over budget bulanan tidak melewati batas yang disepakati).
Bulanan

Menyajikan resep baru kepada suami (kue ataupun makanan).
Bulanan




Ø  Sebagai Ibu
Saya pernah menonton sebuah video mandarin yang banyak beredar di grup WhatsApp. Video ini bercerita tentang proses wawancara penerimaan karyawan sebuah kantor. Pelamar direkam langsung dan disuguhi persyaratan tentang posisi yang sedang dicari. Namun uniknya, job description yang dipaparkan saat itu adalah tugas seorang IBU. Hampir semua pelamar tidak mampu mengerjakan tugas-tugas yang diajukan. Bahkan ada pelamar yang mengatakan bahwa pekerjaan tersebut mustahil dilakukan oleh seseorang.
Bagaimana tidak, profesi ibu mengharuskanmu untuk menjadi seorang pengawas pertumbuhan, perlu melakukan banyak tugas dalam waktu bersamaan, harus sabar dan bertanggung jawab. Menjadi Ibu dibutuhkan fisik yang kuat, karena akan berdiri lama dan sering membungkuk. Waktu kerjanya 135 jam dalam sepekan, dan harus siap siaga selama 24 jam. Tidak memiliki hari libur. Dilain sisi, ibu juga harus menguasai kemampuan keuangan, konsumsi, pengobatan, dan kemampuan kesenian. Masyaa Allah, pantas saja Allah mengganjar syurga di telapak kakinya…
Dua tahun melakoni peran sebagai ibu adalah waktu yang masih terbilang baru. Belum banyak pengalaman yang bisa dibagi. Yang ada hanyalah semangat untuk terus belajar membenahi diri. Berikut adalah checklist  profesionalisme sebagai ibu:

INDIKATOR
WAKTU
KET
Mendoakan anak
Harian

Menyiapkan kurikulum belajar (bermain) anak
Pekanan

Menyediakan waktu bermain dengan anak (menstimulasi setiap aspek perkembangan)
Harian

Memahami perkembangan anak secara fisik dan psikologis sesuai fitrah
Harian

Melatih kemandirian dan life skill anak
Harian

Menyiapkan menu makanan keluarga yang halal dan baik
Harian

Rihlah / rekreasi bersama keluarga
Bulanan



__Semoga Bermanfaat__

Tidak ada komentar:

Posting Komentar