Sabtu, 10 September 2016

MATRIKS BUKU: CERIA (Cerdaskan Emosi Anak)

MATRIKS BUKU:
CERIA (Cerdaskan Emosi Anak)


SPESIFIKASI
Judul Buku
 CERIA (Cerdaskan Emosi Anak)
Nama Penulis
Tien Asmara
Jenis Buku
Bacaan buku remaja sampai orang dewasa
Target Pembaca
Usia : 20 tahun s.d. 40 tahun
Pendidikan : minimal SMA
Wilayah: kota besar maupun kota kecil
Profesi: mahasiswa,orang tua, pendidik/GURU
Fisik Buku
Halaman Naskah: 150 halaman
Cover: Soft cover
Perkiraan halaman buku: 200 halaman
Perkiraan harga : Rp.50.000 – Rp. 100.000
LATAR BELAKANG
Konsep
Memberikan pemahaman kepada pembaca untuk lebih memahami emosi anak, tidak hanya secara teoritis namun juga secara praktikal. Sehingga aktivitas anak dalam bentuk games-games bertema emosi dapat membantu pembaca dalam mengembangkan aspek emosi anak.
Desain
Gambar ilustrasi anak dengan berbagai ekspresi emosi.
Tema
Strategi mengembangkan dan mencerdaskan aspek emosi anak
Manfaat bagi pembaca
Ø  Menambah pengetahuan tentang konsep emosi pada anak.
Ø   Memberi keterampilan pengelolaan emosi sesuai dengan tahapan perkembangan anak
Ø  Menstimulasi aspek emosi anak melalui aneka games menarik.
Ø  Sharing kasus terkait pengembangan aspek emosi anak.
Strategi Pemasaran
Ø  Karena target pembaca buku ini dari kalangan orang tua, pendidik/guru maupun mahasiswa, maka strategi pemasaran buku dilakukan dengan pendekatan pada komunitas para pembaca tersebut.
Ø  Pada orang tua dan guru/pendidik,bisa melaksanakan pelatihan, seminar atau workshop sesuai dengan tema buku (Mencerdasakan Emosi Anak). Sehingga produk buku bisa dipaketkan dengan pelatihannya.
Ø  Target mahasiswa, buku dapat dijual pada toko buku umum yang memungkinkan banyak pembaca bisa mendaaptkan bukunya.
Buku Sejenis
Strategi Pengelolaan Emosi Anak,






NASKAH BUKU: CERIA (Cerdaskan Emosi Anak)
BAB I : Memahami Emosi Anak

Saya bermimpi, keempat anak saya yang masih kecil-kecil kelak akan hidup dalam suatu negara dimana mereka bukan dinilai oleh warna kulitnya, tetapi oleh watak mereka
(Martin Luther King Jr)

     Setiap anak menjalani masa pertumbuhan dan perkembangan, baik secara fisik, kognitif, sosial, moral, bahasa, termasuk juga perkembangan emosinya. Masa tersebut dimulai sejak tahapan usia dini, fase yang sangat potensial bagi seorang anak untuk mengembangkan seluruh kemampuannya. Oleh karena itu, dianggap penting untuk memberikan perhatian khusus terhadap fase ini, baik bagi pendidik di sekolah maupun orang tua di rumah.
     Kesiapan ataupun rangsangan yang diberikan kepada anak tidak hanya pada aspek kemampuan kognitif atau inteligensinya saja, tetapi juga dari aspek perkembangan emosi. Pandangan lama mempercayai bahwa tingkat inteligensi (IQ) atau kecerdasan intelektual merupakan faktor yang sangat menentukan dalam meraih prestasi belajar atau dalam meraih kesuksesan dalam hidup. Menurut pandangan kontemporer, kesuksesan hidup seseorang tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan intelektual, melainkan  kecerdasan emosi (Goleman, 2007), karena itu potensi kesuksesan anak dapat distimulasi salah satunya melalui pengelolaan emosi yang tepat.
     Aspek emosi anak sudah mulai berkembang sejak usia dini, namun anak belum mampu mengolahnya dengan baik, sehingga anak lebih rentan untuk mengalami berbagai gangguan baik fisik maupun psikologis. Gangguan psikologis seperti kecemasan, stress, frustasi, agresivitas, perilaku anarkis, dan gangguan emosi lain semakin meningkat.
         Berbagai perilaku menyimpang anak yang ada merupakan salah satu indikasi ketidaksiapan anak menyikapi kondisi lingkungan sekitarnya. Rasa amarah, kecewa, malu, dan perasaan negatif lain yang bersifat destruktif bersumber pada ketidakmampuan anak mengenali dan mengelola emosi serta memotivasi diri. Menurut istilah Goleman (2007), kondisi ini merupakan cerminan kecerdasan emosi yang rendah. Emosi yang tidak terkendali atau tidak terarahkan dapat menjadi sumber utama dari perilaku irasional. Dengan kata lain, emosi yang tidak terkontrol menimbulkan perilaku brutal yang berujung pada tindakan kriminal, sedangkan rendahnya emosional akan menimbulkan perilaku malas, lemah berpikir, lemah penglihatan dan sebagainya (Suyadi, 2014).
     Hurlock (2004) menyatakan bahwa selama awal masa kanak-kanak emosi sangat kuat. Masa tersebut merupakan saat ketidakseimbangan dalam arti bahwa anak mudah terbawa ledakan-ledakan emosional, sehingga sulit dibimbing dan diarahkan. Goleman (2007) menyatakan bahwa emosi perlu dikembangkan sedini mungkin agar nantinya anak-anak (peserta didik) dapat tumbuh dan berkembang dengan baik dan sehat secara fisik moral, emosional, dan sosial.
     Santrock (2002) menyatakan bahwa periode anak merupakan tahap awal kehidupan individu yang akan menentukan sikap, nilai, perilaku, dan kepribadian individu di masa depan. Ironisnya, perhatian terhadap pentingnya periode usia dini sebagai masa kritis bagi tumbuh kembang anak khususnya perkembangan emosi di Indonesia belum optimal. Hal ini dapat diamati dari rendahnya stimulasi emosi yang diberikan pada anak usia dini, keterbatasan kemampuan pendidik anak usia dini dan orang tua dalam memberikan rangsangan emosi bagi anak, serta keterbatasan sumber referensi tentang stimulasi emosi, merupakan salah satu kendala kurang optimalnya pemberian rangsangan emosi pada anak. Kemampuan anak-anak untuk mengekspresikan emosinya (bahagia, sedih, marah ataupun takut) secara tepat juga merupakan hal penting dalam berinteraksi sosial (Astuti, 2007).
     Puta & Dwilestari (2013) mengemukakan alasan pentingnya pendidikan secara sistematis mengajarkan kecerdasan emosional sejak dini pada anak-anak. Pertama, kecakapan emosional bukan bawaan lahir, tetapi merupakan hasil belajar. Kedua, kecakapan emosional adalah kecakapan yang sangat penting untuk menjaga keberadaan dan kelangsungan hidup yang manusiawi. Ketiga, masa anak-anak adalah masa yang sangat tepat untuk mengajarkan kecakapan emosional.
     Anak yang memiliki keterampilan emosional akan tampak lebih bahagia, lebih percaya diri dan sukses di sekolah. Keterampilan tersebut juga menjadi fondasi bagi anak-anak untuk menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab, peduli pada orang lain dan produktif (Shapiro, 1997).
     Uraian tersebut menyatakan bahwa aspek emosi sebagai sentral bagi kehidupan individu perlu mendapat perhatian penting oleh para pendidik dan orang tua, sehingga perlu pemahaman yang komprehensif terhadap pengembangan stimulasi emosi anak. Namun saat ini, tidak semua orang tua memberikan perhatian terhadap perkembangan anak secara menyeluruh. Kebanyakan orang tua lebih fokus kepada aspek perkembangan yang bisa mereka amati secara langsung misalnya perkembangan kognitif, padahal aspek kejiwaan (emosi) juga memiliki peran yang penting dalam menentukan keberhasilan anak di masa depan. 
       Kehadiran buku ini dirancang untuk memberikan pemahaman dan panduan kepada pembaca dalam mengembangkan aspek emosi anak. Kelak, kita akan mendapatkan anak-anak Indonesia yang tidak unggul dalam prestasi akademik saja. Namun juga baik akhlak dan perbuatannya sebagai cerminan dari kemampuan mereka mengelola emosi dengan baik.

1 komentar:

  1. Ga sabar pengen baca bukunya sampai tuntas. Banyak ilmu baru ternyata di blog ini

    BalasHapus