Jumat, 26 Agustus 2016

Wahai Ibu, Menulislah!



            Siapapun, tanpa terkecuali memiliki pengalaman yang luar biasa dalam hidup mereka. Salah satu cara “mengikat” momen mengesankan itu adalah dengan menulis. Menulis apa saja. Masalah yang paling mudah kita tulis adalah segala hal yang kita rasakan, kita yakini, dan kita pikirkan.
            Peran kehidupan yang tengah kita lakoni dapat memberikan banyak inspirasi – jika kita dapat menuangkannya kedalam sebuah tulisan. Bagi Ibu Rumah Tangga (IRT) menulis dapat bermanfaat untuk banyak hal. Pernah memperhatikan seorang IRT dengan segudang aktivitasnya? Kelihatannya hanya biasa saja rutinitasnya. Ada yang full time mother (stay at home) mendampingi anak-anak dan pekerjaan rumah. Ada juga yang dari pagi sampai sore bekerja (working mom), namun sesampainya dirumah kembali berkutat dengan urusan dapur dan mengurus anak. Anis Baswedan  pernah berkata dalam sebuah tulisannya bahwa “ Ibu Rumah Tangga adalah seorang CEO yang memiliki job description  yang paling rumit”.
Diantara semua pengalaman yang dijalani seorang ibu, pastilah menemukan banyak momen mengesankan. Tulisan yang Ibu torehkan dapat memberikan ilmu baru. Tidak hanya kepada sesama Ibu, namun juga kepada semua pembacanya. Berikut beberapa alasan yang mampu menguatkan seorang Ibu agar bersemangat menulis:

Menulis sebagai Media Katarsis
            Istilah katarsis ini dipopulerkan oleh Sigmund Freud, seorang Pelopor Psikoanalisa. Katarsis merupakan salah satu teknik untuk menyalurkan emosi yang terpendam, atau dengan kata lain pelepasan kecemasan dan ketegangan yang ada didalam diri seseorang. Misalnya dengan menulis atau curhat bercerita kepada orang yang dipercaya. Mungkin anda bisa membayangkan bagaimana “suram”nya kehidupan seorang ibu jika Ia tidak mampu melakukan katarsis atas semua pencapaian prestasi kerja-kerjanya selama ini? Aktivitas menulis bagi seorang Ibu,amatlah membantu mereka dalam menuangkan semua ide ataupun perasaan yang dialami. Dengan menulis Ibu dapat mengeluarkan semua kepenatan dalam diri,yang bisa menghasilkan cerita dan menjadi bahan perenungan. Tidak hanya untuk ibu itu sendiri namun juga orang disekitarnya. Menulis bisa mengeksplorasi semua pendapat Ibu tanpa batas, membebaskan pikirannya meski raganya selalu setia menghiasi rumahnya.
            Ibu yang menulis secara teratur bisa mengenali dirinya dengan baik, memahami karakter dan bakat yang dimiliki. Pennebaker & Beal (Indrani,2016) melakukan penelitian tentang manfaat menulis ekspresif. Hasilnya menyebutkan bahwa kebiasaan menulis tentang pengalaman hidup yang berharga dapat menurunkan masalah kesehatan. Penelitian lainnya menyebutkan bahwa menulis dalam jangka panjang dapat menurunkan stres, meningkatkan sistem imun, menurunkan tekanan darah, mempengaruhi mood dan merasa lebih bahagia. Dalam aspek sosial dan perilaku, menulis dapat meningkatkan memori dan kemampuan sosial linguistik.
            Ternyata menulis tidak hanya bermanfaat untuk menuangkan ide dan gagasan, namun juga digunakan sebagai terapi untuk kesehatan fisik dan mental (therapeutic writing.

Berbagi Inspirasi Keluarga
            Amanah yang diemban para Ibu tentu saja menjadikan mereka sebagai inspirator hebat, minimal bagi suami dan anak-anaknya. Aktivitas yang dilakukan baik dirumah maupun diluar rumah, bisa menjadi sumber inspirasi baru ketika seorang Ibu mampu mengambil hikmah kemudian membagikannya kepada orang disekitarnya melalui tulisan. Kekuatan tulisan ini luar biasa besar. Ibu yang menulis tentang cara-cara mendidik anak tentu saja memberikan manfaat kepada Ibu lainnya yang membutuhkan informasi seputar pengasuhan anak. Ibu yang berbagi pengalaman memasak atau membuat kue kedalam sebuah tulisan akan menjadi referensi bagi Ibu lainnya. Atau tips menjadi Ibu yang berkarir sembari mengurus keluarga juga sangat dinanti apabila digoreskan menjadi sebuah tulisan.
            Semua yang dilakukan Ibu diatas tentu saja bisa menjadi sumber inspirasi bagi orang disekitarnya. Sehingga ide yang didalam kepala para Ibu tidak menumpuk atau menjadi “sampah” pikiran.

Menambah Kecerdasan
            Perempuan adalah makhluk yang cerdas. Menjadi Ibu juga harus cerdas. Kemampuan multitasking yang dimiliki menjadikan Ia mampu menyelesaikan semua pekerjaan dengan baik. Biasanya, perempuan lebih cerewet daripada laki-laki. Dalam sehari saja wanita bisa berbicara 20.000 kata. Bagaimana jadinya jika seorang Ibu tidak mendapatkan tempat penyaluran kecerdasan liguistiknya tersebut? Maka dengan menulis, kecerdasan Ibu akan lebih terasa.
            Kehebohan yang terjadi dirumah bersama anak-anak atau berbagai kreativitas yang dilakukan bersama komunitas bisa menjadi pilihan topik menarik untuk dijadikan sebagai bahan tulisan. Atau seorang Ibu suka berbisnis? Sharing bisnis rumahan melalui tulisan juga banyak digemari oleh kaum hawa lainnya. Sebenarnya, tidak ada alasan kehabisan ide untuk menulis. So, mari kembangkan kecerdasan melalui menulis.

Membahagiakan suami
            Hubungan yang baik dan harmonis antara laki-laki dan perempuan (suami-istri) tidaklah terjadi begitu saja. Tetapi memerlukan usaha yang besar dari kedua belah pihak. Masih ingat cerita zaman Sitti Nurbaya? Istilahnya seperti itu. Zaman berkirim surat. Aktivitas yang kini tergerus oleh zaman digital.
            Menulis “surat cinta” pada pasangan hidup adalah aktivitas yang kini jarang dilakukan. Padahal menulis bagi pasangan suami istri bisa menguatkan kualitas hubungan kekeluargaan. Ibu bisa menuangkan perasaan terhadap suaminya melalui surat cinta atau catatan diary rumah tangganya. Aktivitas pasutri yang padat,mungkin bisa mengurangi kuantitas pertemuan mereka. Dengan menuliskan semua hal yang dirasakan oleh Ibu, bisa membantu para suami untuk memudahkan mereka memahami pikiran dan perasaan istrinya. Pasutri yang suka saling bertukar surat cinta pasti sangat merindukan momen indah ini.
           
----
Dengan tulisan, dunia akan tahu semua hal yang dihadapi Ibu. Dengan tulisan, semua akan tahu peran penting Ibu dalam membangun peradaban dunia. Dengan teriakan, seisi rumah atau ruangan mungkin akan berguncang. Namun dengan tulisan, seisi dunia yang berguncang!
Sekarang, pilihan ada ditangan para Ibu. Maukah ide dan gagasan hanya menjadi sampah pikiran yang siap dibawa kemana saja? Menulis sekarang atau tidak sama sekali. Karena tidak ada hari esok jika tridak dimulai hari ini.
Selamat menulis wahai Ibu..!





 Referensi:

Indraani,S. 2016. Terapi menulis untuk kesehatan jiwa. (online, www.psikologikita.com,diakses tanggal 24 Agustus 2016).

11 komentar:

  1. Kereeen bgt, Mba. Maa syaa Allah.

    BalasHapus
  2. Kereeen bgt, Mba. Maa syaa Allah.

    BalasHapus
  3. Ibu hebat yang luar biasa dengan multi tasking tapi masih sempet nulis... jempol bingits

    BalasHapus
    Balasan
    1. Insyaa Allah Kang..
      Ibu harus serba bisa yak..hehe

      Hapus
    2. Insyaa Allah Kang..
      Ibu harus serba bisa yak..hehe

      Hapus
  4. Trimakasih infonya bagus ,,,ok

    BalasHapus
  5. suka banget denga tulisan ini :)...semangat terus mengingat maknanya tien....

    BalasHapus